Jumat, 06 Januari 2012

Perjalanan menjadi Account Officer


AO( Account Officer ) yaitu orang yang bertugas mencari nasabah yang layak sesuai kriteria peraturan Bank.AO disini tidak hanya bertugas mencari nasabah tetapi tekadang juga dapat menjadi kosultan,karena tidak jarang bagi nasabah kecil mereka bisa bercerita kepada mengenai kehidupan mereka kepada AO itu sendiri.
Setelah memahami mengenai AO,saya ditantang untuk menjadi seorang AO melalui Lembaga Keuangan Syariah Baitul Qiradh Darul Mizan.Selama saya menjadi AO banyak sekali kesulitan yang saya peroleh.Mulai dari mencari Nasabah sampai meyakinkan nasabah.Kebanyakan Nasabah enggan untuk  ikut serta dalam lembaga keuangan.Mereka menganggap setiap lembaga keuangan yang ada itu semua sama.Maka dari itu saya mencoba menjelaskan lebih rinci bahwa Baitul Qiradh Darul Mizan ini berbeda dengan Lembaga Keuangan lainnya.
Setelah saya menejlaskan panjang lebar,mereka mulai sedikit memahami.Kemudan saya juga mencoba menjelaskan produk-produk simpan pinjam yang ada di Baitul Qiradh Darul Mizan,da n kemudian coba saya tawarkan dan alhamdulillah mereka mau ikut menjadi nasabah disini.
Itu baru sebahagian kecil menjadi AO.Ada juga selama saya mencari nasabah,ketika saya mau menawarkan produk-produk simpan pinjam belum juga saya jelaskan,saya sudah diusir.Sangat tidak mudah ternyata.
Selama berhari-hari menjadi AO saya baru menyadari bahwa menjad seorang AO itu tidaklah mudah.Banyak sekali kesulitan-kesulitan yang dialami dan juga banyak hal-hal yang harus diperhitungkan.
Dan yang paling penting seorang AO sangat berperan penting dalam menunjang perkembangan Lembaga Keuangan,dan disatu sisi juga dapat meningkatkan kemampuan sektor rill dalam penyerapan tenaga kerja.

Usaha Kerakyatan Selamatkan Rakyat dan Negara


Hingga saat ini, sektor koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi sandaran perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia. Mayoritas tenaga kerja di Indonesia juga diserap atau menggantungkan hidupnya di sektor ini.Meski pemerintah seakan memandang sebelah mata atau tergolong minim dalam memberikan dukungan, namun sektor koperasi dan UMKM terus tumbuh.
Sektor operasi dan UMKM yang sebagian besar bergerak di usaha informal ini diperkirakan akan tetap menjadi andalan untuk menyerap banyak tenaga kerja. Artinya, dengan sumber daya apa adanya serta kemampuan kreativitas serta inovasi yang terbatas, koperasi dan UMKM tetap bisa menampung jutaan, bahkan puluhan juta angkatan kerja baru pada 2012 dan tahun-tahun berikutnya.
Berdasarkan data BPS, jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2011 mencapai 117,4 juta orang, tetapi yang berkerja baru mencapai 109,7 juta orang. Namun, hingga saat ini, tenaga kerja berpendidikan SD ke bawah masih mendominasi. Jumlah pekerja dengan tingkat pendidikan SD ke bawah sekitar 54,2 juta orang atau 49,40 persen. Sedangkan pekerja dengan pendidikan diploma tercatat sekitar 3,2 juta orang (2,89 persen) dan pekerja dengan pendidikan sarjana hanya sebesar 5,6 juta orang (5,15 persen).Akibatnya, sebagian besar penduduk Indonesia hanya mampu bekerja di level bawah yang tidak memerlukan keahlian khusus, seperti di sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan, serta menjadi buruh dan usaha sektor jasa.
Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mengatakan, jumlah koperasi mengalami peningkatan sebanyak 5,7 persen dari 177.482 unit pada 2010 menjadi 187.598 unit pada 2011. Jumlah anggota koperasi aktif juga meningkat 0,96 persen dari 30,5 juta orang pada 2010 menjadi 30,8 juta orang pada 2011. Perkembangan ini berdampak positif bagi peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 4,99 persen dari 358.768 tenaga kerja pada 2010 jadi 376.680 tenaga kerja pada 2011. Sementara itu, jumlah UMKM pada 2011 diperkirakan menembus angka 55,21 juta unit dengan sebagian besar (54,6 juta) merupakan usaha mikro, sedangkan usaha kecil sebanyak 602.195 unit dan usaha menengah 44.280 unit. Penyerapan tenaga kerja UMKM sebanyak 101,72 juta orang atau meningkat 3,55 dibanding 2010 sebanyak 99,401 juta orang.”Hal ini menunjukkan sektor koperasi dan UMKM tetap menjadi kontributor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Ratusan juta masyarakat Indonesia terlibat di sektor ini. Untuk itu, pemberdayaan sektor koperasi dan UMKM tetap menjadi prioritas ke depan,” kata Sjarifuddin Hasan .
sesuai rencana strategis Kementerian Koperasi dan UKM 2011-2014, maka pemberdayaan diarahkan pada peningkatan iklim usaha yang kondusif bagi koperasi dan UMKM (K-UMKM). Hal ini disertai dengan peningkatan akses pada sumber daya produktif, pengembangan produk dan pemasaran, serta peningkatan daya saing K-UMKM.Untuk mendukung upaya pemberdayaan K-UMKM, Kementerian Koperasi dan UKM melaksanakan program-program unggulan, seperti penyaluran kredit usaha rakyat (KUR). Pada tahun 2011, realisasi penyaluran KUR diperkirakan mencapai Rp 27 triliun dengan 1,8 juta debitur atau melebihi target sebesar Rp 20 triliun.Sedangkan Pada tahun 2012 ini, penyaluran KUR ditargetkan dapat mencapai Rp 30 triliun dengan jangkauan debitur yang lebih luas ke seluruh Indonesia.
Untuk mengotimalkan pelaksanaan program-program pemberdayaan K-UMKM, Kementerian Koperasi dan UM juga bekerja sama dengan kementerian terkait lainnya serta sejumlah BUMN. Kerja sama itu terkait pembiayaan serta pelatihan kerja, produktivitas, maupun manajemen pemasaran. Kerja sama dilakukan terkait dengan kesamaan visi untuk memberdayakan dan peningkatan kinerja K-UMKM.
Oleh karena itu  kita harus betrtanggung jawab menyelesaikan masalah K-UMKM,karena K-UMKM tidak hanya menjadi penghela, tetapi juga penyelamat ekonomi nasional pada saat diterpa dampak krisis. Terus eksis dan terus menyerap tenaga kerja serta memberi makan ratusan juta penduduk Indonesia. (Andrian Novery)

Selasa, 03 Januari 2012

Peringkat Kemiskinan Aceh Beserta Anggaran Tahunan Aceh 2011


Anggaran melimpah yang mencapai 8,9 trilyun yang dimiliki Aceh, ternyata tak mengubah provinsi ini bebas dari jeratan kemiskinan. Dari 33 provinsi di Indonesia, Aceh menduduki peringkat keenam sebagai wilayah termiskin di nusantara pada 2009.
“Dilihat dari peringkatnya secara nasional, Aceh kini menduduki peringkat ke enam tertinggi (kemiskinan-red) di Indonesia, berada di bawah Nusa Tenggara Barat”.Selain masih tingginya angka kemiskinan, pendapatan perkapita Aceh juga masih rendah. pendapatan perkapita Aceh yang hanya Rp16,9 juta pertahun, masih jauh di bawah nasional, mencapai Rp20,3 juta perkapita.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, dari 4,3 juta rakyat Aceh pada 2009, sekitar 21,8 persen diantaranya miskin.
Jumlah itu dinilai menurun, jika dibanding kemiskinan saat 2008 yang mencapai 23 persen warga Aceh. “Berkurang 66,8 ribu jiwa,” .
Sebelumnya, per Maret 2009, BPS merilis, Aceh menduduki peringkat kelima dengan penduduk miskin di pedesaan terbanyak di Indonesia, setelah Gorontalo.
Penurunan ini, kata dia, erat kaitannya dengan perbaikan ekonomi nasional yang sedang berjalan dengan baik selama ini. Pada 2009, BI mengklaim ekonomi Indonesia tumbuh 4,3 persen, lebih besar dari prediksi sebelumnya sebesar 3,5 sampai 4 persen.
“Selama 2009, perkembangan kesejahteraan di Indonesia terus menunjukkan tren membaik,” ujarnya. Penduduk miskin di Indonesia, kata dia, juga turun menjadi 32,53 juta jiwa dari 34 juta orang pada 2008.
Sedangkan pada tahun  2011 Persentase penduduk miskin di Aceh sebesar 19,48 persen mengalami penurunan dibandingkan Maret 2011 sebesar 19,57 persen.
Persentase penduduk miskin didaerah perkotaan menurun sebesar 0,66 persen, sementara di daerah pedesaan terjadi peningkatan sebesar 0,14 persen. Hal ini disebabkan oleh karena kondisi perekonomian Aceh, Indeks Harga Konsumen, tingkat pengangguran terbuka dan Nilai Tukar Petani.
Kalau dilihat dari Pulau Sumatera, Provinsi Aceh nomor satu paling miskin diantara provinsi lain. Bahkan secara nasional penduduk miskin paling banyak masih di Pulau Jawa dan Sumatera, baru kemudian menyusul Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Bali.
BPS mengatakan bahwan walaupun mereka belum menerima data penduduk miskin dari Jakarta,tetapi mereka dapat memastikan bahwa Provinsi Aceh nomor satu paling miskin di pulau Sumatra.
Hasil analisis The Globe Journal dari Badan Pusat Statitsik menyebutkan jumlah penduduk miskin selama enam bulan di Aceh bertambah. Pada Maret 2011, jumlah penduduk miskin sebanyak 894.081 orang dan pada September 2011 meningkat menjadi 900.019 orang.
Orang miskin di Aceh pada September 2011 paling banyak berada di pedesaan yaitu sebanyak 730.890 orang dibandingkan di perkotaan hanya 169.300 orang.
Untuk mengukur angka kemiskinan ini, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dan sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan  non makanan yang diukur dari sisi pengeluarannya.

Masril Koto:Pendiri Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis(LKMA)yang Tidak Lulus SD


Masril Koto adalah pendiri lembaga keuangan mikro agribisnis(LKMA) Prima Tani dan Konsultan Perusahaan Belanda yang tidak lulus SD.Beliau mendirikan LKMA ini di Nagari koto tinggi,Kecamatan Baso,kabupaten Agam,Sumatera Barat,pada 2007.

LKMA ini menjadi cikal bakal program pengembangan usaha Agribisnis pedesaan nasional.Kini,sudah lebih dari 300 unit LKMA yang telah berdiri di Sumatera Barat atas dorongan Masril Koto.
Setiap hari,Masril berkekliling ke beberapa wilayah di Sumbar dengan sepeda mtor bututnya.Karena sering berkeliling,dari satu desa ke desa lain,Masril sering diundang oleh sekelompok  Tani.Masril sering memotivasi mereka agar LKMA didirikan sebagai solusi permodalan petani.Maka tidak heran kalau setiap hari dia membawa ranselnya.Ranselnya disini adalah  salah  satu alat untuk mendukung penunjang aktivitasnya dimana didalamnya terdapat seperti spidol,laptop,dan beragam dokumenpendukung pendiriandan operasional LKMA.
Dengan proses yang sangat panjang,perjuangan Masril mendirikan LKMA berawal pada tahun 2003.Sebagai pertani,ia menanam padi dan membudidayakan jagung dan ubi jalar.Ketika itu dia ingin beralih profesi menjadi petambak lele.Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seniman yang juga seorang petani,Rumzi Sutan.Beliau mendendangkan sebuah lagu tentang cita-cita petani yang mandiri.Sejak saat itulah Masril bertekad memajukan petani.Ia lalu mengikuti sekolah lapangan (LP) petani dari Dinas Pertanian Sumbar di Nagari Tabek Panjang,Baso,Agam.Disekolah itu ia tersadar bahwa persoalan utama dati para petani adalah permodalan.Hal ini tidak bisa dipecahkan oleh industri Perbankan,maka dari itu tercetuslah ide untuk mendirikan Bank petani,demi memenuhi kebutuhan para petani.
Awalnya Masril ingin mendirikan sebuah koperasi,tetapi karena tidak ada sambutan dari masyarakat maka itu tidak menghasilkan apapun.Para petani ini menganggap bahwa apabila koperasi didirikan itu bukanya akan menguntungkan para petani tetapi sebaliknya akan menguntungkan  pendirinya/ketuanya.
Setelah mengikuti Sekolah Lapangan,ia mengumpulkan sejumlah rekan dan membentuk tim yang beranggota lima orang.Tugasnya yaitu,mencari tahu mengenai seluk beluk mendirikan Bank petani.Tim ini dibekali dana pencarian informasi Rp.600.000.Mereka menemui para mantan pegawai Bank dinas terkait,dan mendatangi Bank-bank umum lainnya.
Pada tahun 2006 mereka ke Padang guna mengikuti dikusi dari yayasan alumni fakultas pertanian universitas andalas.Dalam diskusi tersebut dihadiri pejabat Bank Indonesia itu,Masrildiberi tahu bahwa dana untuk mendirikan perbankan itu cukup banyak.Dana itu biasa dimanfaatkan untuk modal kelompok tani.
Modal mendirikan LKMA diperoleh dari lewat penjualan saham Rp.100.000/lembar kepada ratisan petani.Setelah modal diperoleh,muncullah masalah pembukuan.Kemudian mereka mengikuti pelatihan konsultan dari yogyakarta.Mereka juga belajar dari kabupten lain yang telah sukses mendirikan LKMA.
Di LKMA ini beragam produk tabungan dan pinjaman yang berbasis untuk kebutuhan petani yang secara spesifik ditelurkan LKMA.Seperti tabungan ibu hamil,tabungan pajak motor atau pengojek,dan tabungan pendidikan anak.
Dan pada tahun 2007,LKMA prima tani ini resmi diresmikan oleh Menteri Pertanian Anton Apriyanto.Beliau tercenung mendengar cerita Masril.”Kalau pak menteri melakukan seperti yang saya lakukan,pasti hasilnya akan  lebih cepat bagi para petani.”certianya tentang pertemuan itu.
Perjuangan Masril ini bukan tanpa hambatan,ia banyak mendapat cibiran dari orang-orang.tetapi dia tetap sabar dan hanya mengatakan bahwa” kalau kita ikhlas melakukan sesuatu,maka insya Allah akan ada balasannya.”kata Masril.
Dan hal itu pun terbukti pada tahun 2008,ia dikontrak oleh perusahaan Jepang dengan gaji Rp.2,5 juta per bulan.Kini ia menjadi konsultan perusahaan Belanda bergaji Rp.3,5 juta per bulan.
Masril bertahan memajukan petani sebab ia tak ingin mereka terus-menerus dieksplotasi.Dan kini,dengan adanya LKMA ini para petani terutama di desanya akan hidup lebih sejahtera.

Senin, 17 Oktober 2011

Mikro finance

Untuk menanggapi permintaan dari kalangan menengah kebawah pada negara berkembang. Namun pada tahun 70-an, produk dan metodeloginya mulai dikembangkan yang sekarang dikenal dengan "microfinance". Adapun jasa yang diberikan oleh "microfinance" itu sendiri berupa simpan - pinjam, asuransi, dan mentransfer uang. Dari semua itu adalah tujuan daripada "microfinance" ini sendiri.
          Umumnya studi ini diterima sebagai alat yang sangat luar biasa bagi ekonomi pembangunan. Institusi keuangan mikro ini melayani masyarakat miskin dan masyarakat yang pendapatannya rendah.
          Biasanya pelanggan yang datang kemari adalah masyarakat kurang mampu yang mengambil keuntungan serta kemudahan untuk menunjang bisnis mereka. Yang membuat institusi keuangan mikro ini berbeda dari institusi-institusi lainnya ialah, institusi keuangan ini memiliki gagasan dalam pengembangan kondisi dengan melihat sisi dari pendapatan si peminjam.
          Jadi sudah jelaslah mengapa lembaga Keuangan Mikro ini dianggap sebagai "tool" atau "alat" sebagai pembangunan perekonomian pada negara berkembang.

1. Microcredit (Kredit Mikro)

Microcredit merupakan kredit kecil yang diberikan kepada klien dari bank maupun lembaga keuangan lainnya. Microcredit dapat ditawarkan tanpa jaminan kepada perorangan maupun kelompok.

2. Kredit Mikro dan Keuangan Mikro

Sering kali penggunaan istilah ini salah. Kurangnya penjelasan tentang kegunaannya, bahkan di sektor pembangunan, adalah suatu alasan dimana hal ini harus dibedakan sejak awal.
          Dimana Kredit Mikro merupakan bagian dari bidang keuangan mikro. Kredit Mikro merupakan layanan terhadap pengusaha yang pendapatannya rendah. Sementara, Keuangan Mikro mencakup kedalam kredit, tabungan dan jasa keuangan  seperti asuransi dan uang transfer.

3. Siapakah Klien dari Keuangan Mikro?

Klien dari keuangan mikro adalah "aktif secara ekonomis miskin" atau orang-orang berpenghasilan rendah
yang tidak memiliki akses ke lembaga keuangan formal.
Klien harus memiliki peluang ekonomi dan keterampilan kewirausahaan sebagai uang yang mereka terima tidak harus digunakan untuk konsumsi, tetapi untuk tujuan produktif.

4. Keuangan Mikro dan Rentenir

Pada rentenir biasanya, kepentingan biaya hampir selalu jauh melebihi apa yang dibebankan oleh LKM (Lembaga Keuangan Mikro) dan para peminjamnya tidak memiliki jenis perlindungan dari penyalahgunaan
perilaku,  kasarnya penarikan pinjaman atau praktek pinjaman tidak adil.


5. Keberlanjutan Keuangan 

Untuk menjalankan usaha, lembaga keuangan dan pada umumnya semua perusahaan, pastilah sangat memerlukan dana. Ini dapat muncul dalam beberapa cara berbeda: mereka dapat menerbitkan saham (apa yang secara teknis disebut ekuitas) atau akses apa yang disebut pembiayaan utang, yang biasanya dalam bentuk obligasi dan pinjaman dari lembaga keuangan lainnya. Kemudian bank dapat mengumpulkan tabungan dari klien mereka. Sumber penambahan dapat berasal dari sumbangan, hibah maupun pinjaman lunak (kredit di bawah harga pasar).

Minggu, 18 September 2011

KEMISKINAN

“Kemiskinan”.Satu kata yang sangat sulit diartikan.Kata yang penuh dengan misteri kehidupan,yang tidak akan pernah kita ketahui kapan berakhirnya.kata yang membuat semua orang tidak ingin mendekatinya bahkan merasukinya kehidupannya.itulah dia “Kemiskinan”.
Kemiskinan itu seakan seperti sebuah penyakit yang menular yang sulit untuk diobati,yang seharusnya dimana penyakit itu bisa diobati tetepi karena ada sebuah penyakit yang bernama malas,maka dari itu sulit untuk disembuhkan.
Bagi sebagian orang bahkan sangat sulit untuk menghindari kemiskinan itu sendiri.Bahkan kemiskinan itu sendiri tidak jarang telah menjadi turun temurun didalam keluarganya.Mungkin tidak hanya menjadi turun temurun melainkan sudah mendarah daging didalam dirinya.
Di dunia yang serba canggih ini,terkadang kita tidak pernah memperhatikan kehidupan di sekitar kita.Kita hanya meperhatikan kehidupan kita saja,kehidupan yang kita jalani,kehidupan yang kita tempati,kehidupan yang penuh dengan kesenangan.Padahal disekitar kita mungkin sangat banyak orang-orang yang harus kita perhatikan,dimana orang tersebut sangat butuh perhatian dari kita.Khususnya orang-orang miskin.
Mungkin sebagian dari kita masih berpikir bahwa orang-orang (re: miskin)tersebut yang berhak memperhatikan mereka hanyalah pemerintah saja.Kita tidak perlu ikut campur masalah pemerintah,karena itu sudah menjadi tugas pemerintah.Tanggapan itu sebenarnya sangat lah tidak pantas,memang benar bahwa orang-orang tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.Tetapi dimana rasa sosialisme kita sebagai Bangsa Indonesia ??.Apakah salah kalau kita membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian dari kita ?!
Kalau kita hanya bisa berpangku tangan kepada pemerintah,maka masalah kemiskinan di Indonesia ini tidak akan pernah berakhir.
Disini saya ingin menceritakan sedikit kehidupan salah seorang saudara kita yang masih dalam keadaan miskin.Mungkin cerita ini bisa membuat kita sadar bahwa masih banyak orang-orang miskin disekitar kita.
Sebut saja pak jafar.Beliau sehari-harinya bekerja serabutan.Kadang beliau bekerja sebagai kuli bangunan,kadang mencari barang bekas,terkadang memotong rumput dirumah-rumah,dan terkadang tidak bekerja sama sekali.Beliau hidup bersama kedua orang abangnya yang dalam kondisi tidak sehat (re: tidak waras).Dari hasil kerja serabutan tersebut,per harinya pak Jafar hanya menghasilkan 20.000-40.000.Walaupun penghasilan beliau tidak seberapa,tetapi bagi beliau bisa untuk makan sehari-hari saja sudah lebih dari cukup.
Beliau tinggal disebuah gubuk tua yang sudah tidak layak huni dan hanya beralaskan tanah.Sebuah gubuk yang dikelilingi rumput-rumput liar yang besar yang tidak pernah di bersihkan.Sehingga membuat gubuk tersebut terlihat semakin tidak layak di huni.Gubuk ini sendiri sudah bertahun-tahun beliau tempati,tanpa ada perubahan sedikit pun.
Ketika musim hujan datang,seketika gubuk itu akan dibanjiri air,dan lantainya pun menjadi kotor.Itu dikarenakan karena atapnya banyak yang bocor.sehingga dengan mudahnya air hujan masuk dan membanjiri gubuk tersebut.Walaupun demikian beliau masih bersyukur.karena Bagi beliau mempunyai pekerjaan dan tepat tinggal saja sudah lebih dari cukup.
Inilah realita hidup yang sebenarnya.yang tidak bisa kita hindari dan tidak bisa berubah sekejab mata.perubahan itu sendiri tidak akan berubah dengan sendirinya,kecuali kalau kita sendirilah yang akan merubahnya.

Garis Kemiskinan harus direvisi

JAKARTA,KOMPAS.com — Komisi XI DPR akan mengarahkan pemerintah agar mengubah garis kemiskinan yang saat ini ditetapkan setara dengan penghasilan Rp 230.000 per orang dalam sebulan.
"Kalau garis kemiskinannya Rp 230.000, lalu bagaimana orang yang hanya menghasilkan Rp 280.000 sebulan? Itu kan berarti dia hanya punya Rp 9.000 sehari, cukup apa uang sebesar itu. Sudah banyak pengemis yang menghasilkan Rp 10.000 sehari, masa mereka tidak termasuk orang miskin,” ujar Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis di Jakarta, Minggu (11/9/2011).
Atas dasar itu, Harry menegaskan, pihaknya akan mendorong pemerintah untuk memasukkan satu pasal khusus dalam Rancangan Undang-Undang tentang APBN 2012 yang menekankan bahwa anggaran yang dialokasikan pada APBN 2012 adalah untuk mengatasi kemiskinan dengan target tertentu.
”Jadi, dasarnya tidak lagi garis kemiskinan Rp 230.000 itu. Ini angka yang tidak operasional. Itu garis kemiskinan, jadi yang di bawah angka itu orang miskin, lalu yang 20 persen lebih tinggi, yakni yang berpenghasilan Rp 280.000 dianggap hampir miskin. Orang ini sudah dianggap kaya,” ujarnya