Selasa, 03 Januari 2012

Masril Koto:Pendiri Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis(LKMA)yang Tidak Lulus SD


Masril Koto adalah pendiri lembaga keuangan mikro agribisnis(LKMA) Prima Tani dan Konsultan Perusahaan Belanda yang tidak lulus SD.Beliau mendirikan LKMA ini di Nagari koto tinggi,Kecamatan Baso,kabupaten Agam,Sumatera Barat,pada 2007.

LKMA ini menjadi cikal bakal program pengembangan usaha Agribisnis pedesaan nasional.Kini,sudah lebih dari 300 unit LKMA yang telah berdiri di Sumatera Barat atas dorongan Masril Koto.
Setiap hari,Masril berkekliling ke beberapa wilayah di Sumbar dengan sepeda mtor bututnya.Karena sering berkeliling,dari satu desa ke desa lain,Masril sering diundang oleh sekelompok  Tani.Masril sering memotivasi mereka agar LKMA didirikan sebagai solusi permodalan petani.Maka tidak heran kalau setiap hari dia membawa ranselnya.Ranselnya disini adalah  salah  satu alat untuk mendukung penunjang aktivitasnya dimana didalamnya terdapat seperti spidol,laptop,dan beragam dokumenpendukung pendiriandan operasional LKMA.
Dengan proses yang sangat panjang,perjuangan Masril mendirikan LKMA berawal pada tahun 2003.Sebagai pertani,ia menanam padi dan membudidayakan jagung dan ubi jalar.Ketika itu dia ingin beralih profesi menjadi petambak lele.Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seniman yang juga seorang petani,Rumzi Sutan.Beliau mendendangkan sebuah lagu tentang cita-cita petani yang mandiri.Sejak saat itulah Masril bertekad memajukan petani.Ia lalu mengikuti sekolah lapangan (LP) petani dari Dinas Pertanian Sumbar di Nagari Tabek Panjang,Baso,Agam.Disekolah itu ia tersadar bahwa persoalan utama dati para petani adalah permodalan.Hal ini tidak bisa dipecahkan oleh industri Perbankan,maka dari itu tercetuslah ide untuk mendirikan Bank petani,demi memenuhi kebutuhan para petani.
Awalnya Masril ingin mendirikan sebuah koperasi,tetapi karena tidak ada sambutan dari masyarakat maka itu tidak menghasilkan apapun.Para petani ini menganggap bahwa apabila koperasi didirikan itu bukanya akan menguntungkan para petani tetapi sebaliknya akan menguntungkan  pendirinya/ketuanya.
Setelah mengikuti Sekolah Lapangan,ia mengumpulkan sejumlah rekan dan membentuk tim yang beranggota lima orang.Tugasnya yaitu,mencari tahu mengenai seluk beluk mendirikan Bank petani.Tim ini dibekali dana pencarian informasi Rp.600.000.Mereka menemui para mantan pegawai Bank dinas terkait,dan mendatangi Bank-bank umum lainnya.
Pada tahun 2006 mereka ke Padang guna mengikuti dikusi dari yayasan alumni fakultas pertanian universitas andalas.Dalam diskusi tersebut dihadiri pejabat Bank Indonesia itu,Masrildiberi tahu bahwa dana untuk mendirikan perbankan itu cukup banyak.Dana itu biasa dimanfaatkan untuk modal kelompok tani.
Modal mendirikan LKMA diperoleh dari lewat penjualan saham Rp.100.000/lembar kepada ratisan petani.Setelah modal diperoleh,muncullah masalah pembukuan.Kemudian mereka mengikuti pelatihan konsultan dari yogyakarta.Mereka juga belajar dari kabupten lain yang telah sukses mendirikan LKMA.
Di LKMA ini beragam produk tabungan dan pinjaman yang berbasis untuk kebutuhan petani yang secara spesifik ditelurkan LKMA.Seperti tabungan ibu hamil,tabungan pajak motor atau pengojek,dan tabungan pendidikan anak.
Dan pada tahun 2007,LKMA prima tani ini resmi diresmikan oleh Menteri Pertanian Anton Apriyanto.Beliau tercenung mendengar cerita Masril.”Kalau pak menteri melakukan seperti yang saya lakukan,pasti hasilnya akan  lebih cepat bagi para petani.”certianya tentang pertemuan itu.
Perjuangan Masril ini bukan tanpa hambatan,ia banyak mendapat cibiran dari orang-orang.tetapi dia tetap sabar dan hanya mengatakan bahwa” kalau kita ikhlas melakukan sesuatu,maka insya Allah akan ada balasannya.”kata Masril.
Dan hal itu pun terbukti pada tahun 2008,ia dikontrak oleh perusahaan Jepang dengan gaji Rp.2,5 juta per bulan.Kini ia menjadi konsultan perusahaan Belanda bergaji Rp.3,5 juta per bulan.
Masril bertahan memajukan petani sebab ia tak ingin mereka terus-menerus dieksplotasi.Dan kini,dengan adanya LKMA ini para petani terutama di desanya akan hidup lebih sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar